Selasa, 03 Juli 2012

Tangisan Pelangi


Angin yang berhembus sepoi dibawah sinar bulan purnama membuat aku merasa keindahan malam ini memang milikku,kuarahkan pandanganku pada bulan,damai terasa dihatiku.Betapa tidak,aku mulai berfikir  kemasa lalu,dimana suka dan duka menghampiri kehidupanku.Aku tidak tau apakah akan selalu seperti ini.Semua kisah telah aku lalui,dari senang,sedih,bahkan menyakitkan sekalipun.Aku berbisik dalam hati berfikir sejenak.Dan disitulah aku simpulkan hanya satu kisah yang tidak pernah aku lalui.Jatuh cinta,ujarku dalam hati,betapa tidak,selama empat tahun ini aku berada dipondok yang penghuninya hanya kaum akhwat.kalau ikhwannya cuma ada beberapa orang itupun Ustadz yang mengajar dipondok pesantren Diniyah Putri Padang Panjang ini.Tak terasa serene malam berbunyi,akupun terbangun dari lamunanku.Aku menutup jendela kamarku yang berada dilantai dua asrama  mematikan lampu,kemudian terpejam dengan damainya jiwaku.

Adzan subuh yang begitu menggema menggugah qalbu,membangunkanku dari tidur nyenyakku.Kubasahai ragaku dengan air yang terasa sejuk menyentuh kulitku,aku sudah tidak merasakan dingin lagi karena hal ini sudah setiap pagi kulakukan.Setelah selesai aku berangkat menuju mesjid yang berada tepat ditengah-tengah komplek pesantren.Aku menghadap Tuhan dengan begitu khusyuknya,rasa damai menyelimutiku.Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuatku semakin terasa damai dipagi ini.Dikala aku tengah khusuk melantunkan ayat-ayat Allah itu dadaku terasa sesak,jantungku berdetak kencang,hatiku begitu gelisah seakan telah terjadi sesuatu yang buruk.Fikiranku saat itu tertuju pada Mama.Aku tidak tau mengapa aku selalu memikirkan Mama,akupun tidak bisa tenang dalam Mesjid,aku keluar dari Mesjid dan menuju kamarku.Aku berencana untuk menghubungi Mama,ketika kulihat handpone yang kutaroh diatas tempat tidur enam panggilan tak terjawab,betapa terkejutnya aku setelah tau kalau enam panggilan tak terjawab itu datang dari Papa.Hatiku semakin tidak tenang,jantungku berdegup dengan sangat kencang,kutekan kembali nomor Papa,aku hendak menghubungi Papa,ketika jempolku ingin memencet tombol panggil tiba-tiba pintu diketuk
“Assalamualaikum Rani?”Salam itu begitu mngejutkanku,sehingga kuurungkan niatku menghubungi Papa,dan menjawab salam itu seraya membuka pintu.Ternyata Ustazah Maya yang datang masih dengan pakaian tidurnya,aku tau mungkin Ustazah baru saja bangun karena tadi beliau tidak ikut sholat subuh berjamaah berhubung beliau sedang berhalangan.Kuulurkan tanganku untuk menyambut tangan Ustazah,dan akupun menyalami dan mencium tangannya.Aku heran kenapa Ustazah pagi-pagi sudah datang menemuiku,dengan tidak ingin terlalu lama penasaran akupun menyuruh Ustazah masuk dan bertanya ada apa sebenarnya dengan beliau,kenpa pagi-pagi sekali sudah datang menemuiku.Sejenak Ustazah terdiam,akupun menjadi tambah penasaran,namun Ustazah tampak menitikkan air matanya yang membuat aku tidak berani bertanya lagi.Kediamanku membuat Ustazah semakin tak tega,diapun memelukku,aku merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada Ustazah,mengapa dia bersikap seperti ini,apa mungkin dia sakit atau dia kehilangan sesuatu.Akupun memberanikan diri untuk bertanya.Ustazah menatapku dengan penuh kasih sayang,akupun tidak tega melihat air mata yang mengalir itu,aku terbawa suasana dan menitikkan air mata pula.
“Rani,kamu sudah dewasa saat ini jadi kamu taukan apa yang menjadi keputusan Allah itulah yang terbaik.Nak,Siapapun yang bersikap sabar menghadapi cobaan-Nya maka Allah telah menyiapkan pahala dibaliknya,”
“Maksud Ustazah?”Tanyaku ragu.
Ustazahpun melanjutkannya dengan suara yang agak parau.
 “Mamamu…….telah meninggalkan kita pada pukul enam tadi pagi ….”
Jawaban itu begitu mengejutkanku,serasa petir berbunyi ditelingaku,dadaku begitu sesak aku tidak mampu berucap apa-apa lagi,mataku yang tadinya,bening berubah panas,dan air mataku mengalir bagaikan sungai yang marah.Ustazah mengerti apa yang aku rasakan,sehingga Ustazah memelukku dan menyuruhku bersabar.Rasa penyesalan kini datang menghantuiku,aku sadar selama ini aku selalu saja berselisih faham dengan Mama,memang Mama selalu mengatur hidupku,dan selalu ingin aku seperti apa yang dia inginkan walaupun hal itu bertentangan dengan keinginan ku sendiri tapi aku tetap mengikuti kehendak Mama.Aku tidak bisa menahan tangis sehingga aku menangis selepas-lepasnya dan sepuas-puasnya,akibatnya teman-teman yang kamarnya berada disamping kamar ku keluar dan mengahampiriku.merekapun turut berduka cita.
“Tabahkan hati mu sahabat ku,mungkin Tuhan punya sesuatu dibalik semua ini.”Hikmahpun berusaha menenangkan ku dan menghapus air mata yang jatuh dipipi ku.Setelah itu Hikmah merapikan kamar ku dan memasukkan beberapa pakaian ku kedalam tas,Ustazah pamit keluar untuk bersiap-siap mengantar ku pulang.Setelah semua selesai,aku,Hikmah,Ustazah dan lima orang teman ku berjalan menuruni tangga asrama,aku seperti kehilangan seluruh kekuatan ku karna itulah Hikmah membimbing ku.Setelah sampai diluar sebuah mobil APV stand bay disana,seorang pemuda berdiri disampingnya.Ustazah Yelly berkata pada Ustazah Maya kalau pemuda itu datang untuk menjemput ku.Tanpa pikir panjang lagi aku menaiki mobil itu dengan Hikmah dan lima orang temanku juga Ustazah Maya,sedangkan Ustazah Yelly tidak bisa ikut karna ada rapat kepala sekolah yang harus dihadirinya.Aku duduk didepan disamping pemuda itu,tak sepatah katapun telontar dari mulut ku.Kebisuan memang menyelimuti mobil itu sesekali aku menengok kebelakang,juga tak sepatah katapun yang terlontarkan dari mulutku.
Tak terasa  tiga jam telah berlalu,mobil yang kami kendarai berhenti di SPBU kecamatan Kinali untuk mengisi bahan bakar.Setelah selesai mengurus pembayarannya,pemuda itu menaiki kembali mobil dan membawa kami melaju dengan kecepatan tinggi.Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara.
“Sepertinya kita tidak saling kenal anda siapa?”tanyaku dengan hati-hati.Pemuda itu menoleh pada ku kemudian mengalihkan lagi pandangannya kedepan.
“Namaku Fachri,aku mahasiswa Universitas Indonesia,tempat Papa kamu mengajar,kebetulan tadi malam aku nginap dirumahmu yang dijakarta,kemudian tadi pagi Papamu dapat telfon kalau Mamamu mendapat musibah maka itu aku diajak ke Sumatera”
“Lalu bagaimana kamu tau dengan sekolahku,sepertinya kamu baru saja menginjakkan kaki disini”
“Iya,tapi aku pernah menelusuri jalan ini waktu mengadakan penelitianku dua tahun lalu,dan kebetulan aku juga megunjungi sekolahmu dulu,apa kamu tidak ingat,waktu itu di acara penyambutan kamukan yang jadi protokol?”
Akupun berfikir sejenak dan ternyata memang aku pernah melihat wajahnya waktu acara penyambutan mahasiswa dari UI,dan aku memang dipercaya menjadi protokol saat itu.
Tak berapa lama  kami sampai .Proses pemakaman berjalan dengan lancar,tanah bisu telah membalut luka dihatiku,melengkapi kisah yang aku jalani.Perlahan tempat itu sepi dari kerumunan banyak orang,hanya aku,Papa,Ustazah,Hikmah dan lima orang temanku yang tinggal.Sesekali,kupeluk tanah bisu itu.Aku tak menyangka kenapa Mama begitu cepat pergi.Petir menyambar,dan haripun mulai mendung,Ustazah mengajak kami pulang,aku hanya diam dengan ajakan itu,kemudian Papa juga menyuruhku pulang tapi,aku masih ingin tetap berada disitu.Dan Papapun mengizinkan aku untuk tetap berada disini,munkin Papa tau bagaimana persaanku saat ini.Tinggalah aku seorang diri dihadapan tanah bisu yang jaraknya tidak jauh dari rumahku itu,Petir menyambar sekali lagi,kali ini dia datang bersama derasnya hujan,aku tidak menghiraukan semua itu.Tanpa kusadari seseorang telah berdiri disampinku,ketika aku menoleh ternyata dia adalah Fachri dengan seragam hitam dan juga membawa payung yang berwarna hitam.Fachri mengajakku pulang tapi aku tidak menghiraukan kata-katanya.
“Rani,Allah sangat tidak suka pada hambanya yang tidak mempunyai sifat ikhlas,sebaiknya ikhlaskan saja agar Mama tenang di alam sana dan kamupun bisa tenang dan tidak larut dalam kesedihan seperti ini”
“Kamu tidak tau apa yang aku rasakan Fachri..”Ujarku terisak ditengah derasnya hujan.
“Tapi kamu masih punya Papa yang harus kamu urus,kamu tidak boleh seperti ini,apa kamu mau nantinya kamu sakit dan Papamu juga tambah panik dengan semua itu”Aku berdiri disamping Fachri menatapnya dengan dalam air mataku terus saja mengalir ntah apa yang terjadi setelah itu.Ketika aku bangun aku sudah berada dikamar dan Hikmah berada disampingku.Aku berusaha bangkit tapi aku serasa tidak punya kekuatan apa-apa.
“Kamu jangan bangkit dulu,kamu masih lemah”cegah hikmah sambil merapikan selimutku.Kemudian Papa datang dan menanyakan keadaanku,aku menjawab baik-baik saja.Papa juga menyuruhku agar bersabar menghadapi semua ini.
“Sudahlah,ikhlaskan kepergian Mama,biarkan dia tenang di alam sana”
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk,Hikmah membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah Fachri.
“Kamu sudah baikan Ran?”Tanyanya sambil duduk disamping tempat tidurku,kebetulan ada kursi disana.
“Aku baik-baik saja kok,makasi kamu udah nolongin aku”
“Ah,nggak apa-apa kok,itukan sudah kewajiban kita sesama muslim saling tolong menolong.
Sejenak kami bertiga terdiam,kemudian bibik datang membawakan makanan untukku.
 “Biar aku saja yang nyuapin Bik,”pinta Hikmah.
“Ya sudah kalau gitu Bibik kebelakang dulu ya,masih banyak kerjaan didapur.”
“Iya bik”tambah hikmah sambil meletakkan handponenya diatas meja dan mengambil nasi yang diantarkan Bik Inah tadi.
“Fachri,kamu bisa tolong dudukkan Rani,dia belum terlalu kuat”
Fachripun membantu mengangkat bagian kepalaku untuk disandarkan ditempat tidur.Setelah aku duduk Hikmah menyuapi aku.setelah beberapa suapan,hanpone hikmah berdering,ternyata ada tepfon dari pacarnya Hikmah.awalnya dia tidak menghiraukan tapi karena henpone itu tidak berhenti berdering Hikmah mengangkatnya.Ternyata pacarnya Hikmah marah karena telfonnya nggak diangkat.
“Mah,kamu ngomong dulu baik-baik sana,biar aku yang nyuapin Rani”Tawar Fachri.Hikmahpun keluar dari kamarku dan bicara dengan pacarnya.Tinggallah aku dan Fachri di kamar,aku merasa aneh saat itu,karena belum pernah sebelumnya aku berada di satu ruangan hanya berdua dengan seorang cowok,apalagi aku baru kenal dengannya.Mungkin Fachri merasakan juga keanehan itu,sehingga dia berusaha menenangkan aku.
“Kamu nggak usah berfikiran buruk Ran,aku cowok baik-baik kok”Ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi untukku.Aku hanya tersenyum mendengar pengakuannya.Sejenak keraguan dalam hati menghilang,aku menerima suapan itu.Ternyata Hikmah lama sekali terima telfonnya,sampai suapan terakhir dari Fachri,Hikmah belum juga datang.
“Hikmah serius amatya bicaranya”Ucap Fachri menghalau kebisuan diantara kami.
“Mungkin cowoknya kangen karena satu tahun ini mereka nggak pernah ketemuan.”jelasku.
“Oh,pantes aja,oya,gimana dengan cowokmu?”pertanyaan itu begitu mengejutkan aku sehingga air minum yang sedang aku teguk menyambur keluar dan akupun batuk-batuk.
“Maaf Ran, aku nggak bermaksud menyinggung perasaanmu dan membuatmu terkejut.”Tambahnya lagi sambil mengeluarkan sapu tangannya dan berusaha mengelap air yang tumpah di selimut dan pakaianku.
“Nggak apa-apa kok Fa,maaf biar aku aja yang lap”Pintaku padanya.
“Maaf,aku nggak sengaja”diapun menyerahkan sapu tangan itu padaku.
“Iya,nggak apa-apa kok”Ucapku sambil mengelap mulutku dengan sapu tangannya.Karena merasa sangat heran Fachri bertanya lagi padaku perihal cowokku.Kali ini aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam fikirannya.Untung saja waktu itu Papa datang.
“Pak,mungkin besok pagi aku harus berangkat ke jakarta,karena lusa aku harus mengikuti ujian”ucap Fachri.
“Oh,iya terima kasih banyak kamu telah mau mengantarkan bapak dan mau membantu menjemput Rani”
         “Ya Pak sama-sama”
Pagi itu cuaca mendung,dingin yang menusuk tulang serasa tidak ingin turun dari tempat tidur.Kulihat jam dinding jarumnya menunjukkan angka lima.Kutarik selimutku dan berusaha untuk duduk,kupandang disampingku,Ustazah masih tertidur,mungkin dia masih capek.Kulihat kebawah,Hikmah dan lima orang temanku juga masih tidur,aku ambil selimutku dan aku tambah selimut mereka yang hanya menggunakan kain selendang.Sepertinya mereka nyaman.Aku membuka pintu dengan hati-hati,takut mereka akan terbangun.
 Kuambil wudhu.Aku sholat subuh,kerinduan pada Mama kembali aku rasakan tak tersadar olehku air mata kembali mengalir,aku ambil Al-Qur’an yang ada diatas meja,aku bacakan surat yasin untuk Mama.Setelah selesai aku kembali kekamar,kulihat Ustazah,Hikmah dan lima orang temanku mengemasi barang-baranya.Mereka akan kembali ke pondok pagi ini.
.Tak berapa lama Ustazah dan enam orang temanku,selesai bersiap-siap,kami sempat sarapan bareng,dan kemudian mereka pamit padaku dan Papa,Papa menyuruh Bang Ujang untuk mengantarkan mereka kepondok.Akhirnya rumah itu terasa sunyi,hanya beberapa orang pelayat yang masih datang bergantian.
Seminggu telah berlalu,duka yang tertanam,membengkak,dan menyakitkan kini berangsur pudar,karena aku dan Papa telah mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi.Malam itu terasa sepi aku menghidupkan televisi dan asyik duduk didepannya.Papa datang dengan membawa secangkir minuman.
“Rani,sudah seminggu ini Papa pikirkan bagaimana kalau kita pindah kejakarta?”Aku sangat terkejut mendengar pernyataan itu,aku mematikan televisi dan fokus pada pembicaraan Papa.
“Jadi,maksud Papa kita akan menempati rumah yang ada di Jakarta?”
Papa menganggukkan kepala.
“Lalu bagaimana dengan sekolah Rani Pa,apa Rani akan pindah sekolah juga?”
“Ya,Papa akan masukkan kamu ke sekolah Umum,dari dulu kamu ingin sekali masuk sekolah Umumkan?”
Aku terdiam,aku memang dari dulu menginginkan sekolah Umum,tapi karena Mama sangat ingin aku masuk sekolah agama maka itu aku berada di pondok selama ini.Aku setuju dengan usul Papa,dan semua urusan telah diurus oleh Papa.Akhirnya aku dan papa pindah kejakarta.Rumah yang berada di Pasaman Barat itu disedekahkan oleh Papa kepada seorang Fakir miskin yang tidak punya rumah.
Kehidupan dijakarta tidak begitu enak,akupun mulai terserang demam karena polusi udara,jadi aku tidak masuk sekolah hari itu.Setelah Papa berangkat ke kampus tak berapa lama pintu diketuk dengan keras.
 “Biar aku saja Bik yang buka,”Ujarku sambil melangkah menuju ruang tamu dan membuka pintu depan,ketika pintu aku buka,seorang perempuan yang kelihatan agak bengis dengan make up tebal yang menor berdiri dihadapanku,dia tersenyum padaku sambil mengusap daguku seraya berkata
“Putriku yang cantik,…”
Aku terkejut mendengar kata-kata itu,akupun menanyakan perihal siapa dia.Dia langsung saja memasuki rumah tanpa menghormati aku sipemilik rumah yang berdiri dihadapannya.Bahkan dengan teriakannya dipanggilnya Bik Inah.Dia begitu kelihatan jahat,bahkan dia juga menanyakan segala sesuatu tentang seisi rumah pada Bik Inah.
“Maaf,sepertinya anda memang kurang diajari sopan santun dalam memasuki rumah orang,’Tegasku ketika perempuan itu ingin membuka pintu kamar Papa.
“Sayang,kamu tidak boleh bicara seperti itu,tidak sopan”Jawabnya dengan nada cemooh.Aku benar-benar muak dengannya apalagi ketika dia membuka brangkas Papa dan ntah dari mana dia tau nomor kunci berangkas itu,sedangkan aku putri Papa sendiri tidak tau nomor kunci berangkas itu.Dia mengeluarkan uang sejumlah sepuluh juta,aku marah padanya dan menyuruhnya keluar dari rumahku.
“Sebaiknya anda keluar dari rumahku,dan tinggalkan barang yang bukan milik anda itu,”Ucapku sambil membukakan pintu untuknya.
Dia begitu terlihat marah dengan ucapanku,lalu dia bangkit dari tempat brangkas dan menghampiriku,
“Kamu tidak sopan bicara seperti itu pada orang tua,”Ucapnya kasar
“Kalau orangtua itu tidak sopan untuk apa kita juga sopan padanya.”Jawabku sinis.
“Jadi kau tidak mau menghormati aku sebagai…”
“Sebagai apa???”Suara Papa begitu mengejutkannya,dan tidak berani meneruskan ucapannya.ntah dari mana Papa datang,Papa telah muncul saja dirumah,tapi aku merasa lega dengan kedatangan Papa.
“Keluar dari rumahku!!!!!!”Tegas Papa dengan suara yang sangat keras.
“Nggak,aku nggak akan keluar sebelum kamu menyerahkan putriku padaku”
“Putrimu tidak ada disini dia telah lama mati,Rani bukan putrimu dia putriku.!!”
“Dia memang putrimu,tapi ingat Daniel aku yang melahirkannya!”
Aku begitu terkejut dengan ucapan itu,akupun menangis dan berlari keluar rumah.Aku tidak melihat sebuah bus melaju dengan kencangnya,sehingga aku tidak bisa mengelak lagi aku berteriak sembari menutup mataku.Kurasakan sebuah hantaman menyentuh tubuhku,ketika kubuka mataku,ternyata aku sudah berada di seberang jalan,kulihat kebelakang,perempuan yang mengaku menjadi Mamaku itu jungkir balik akibat hantaman dari mobil yang hampir saja menabrakku itu.Spontan saja aku berseru dan berlari menghampiri perempuan itu.
“Mama!!!!!!!!!!!!”ucapku sambil berlari dan menghampirinya,kuangkat bagian kepala Mama ke atas pangkuan ku,Mama tersenyum padaku,
“Putriku,maafkan Mama sayang…..”Ucapnya sembari sesak didadanya, dan kamipun segera membawanya kerumah sakit.
“Pa,maafin Rani Pa,semua ini terjadi karena Rani..”Isakanku membuat Papa,terharu.
“Tidak nak,Rani tidak salah,Papa yang salah telah menutupi kebenaran ini padamu”
Tarikan nafas panjang mengakhiri cerita Papa,aku mendekat ke Papa dan memeluknya.Tak berapa lama akhirnya Mama sadar akupun minta maaf padanya,dan memintanya untuk tinggal bersama kami.Papapun kembali menikahi Mama.Aku sangat bahagia saat ini.Tapi aku harus berpisah dengan mereka karena aku harus melanjutkan pendidikanku keluar negri.
Enam tahun berlalu,duka yang terjadi,kisah yang kujalani berlalu bagaikan angin yang berhembus.Dan aku telah selesai menamatkan pelajaranku dengan jurusan kedokteran di Universitas Kebangsaan Malaysia di Malaysia.
Hari itu adalah hari selasa,tepatnya ulang tahunku yang ke dua puluh tiga.Aku pulang ke Indonesia,aku sudah rindu sekali ingin bertemu dengan Papa.Karena selama enam tahun ini aku tidak pernah pulang ke Indonesia hanya Papa dan Mama yang selalu mengunjungiku pada saat hari raya Idul Fitri..Aku sengaja tidak memberitahukan mereka akan kepulanganku ke Indonesia.Aku ingin membuat kejutan pada seisi rumah.Akirnya aku sampai di Bandara Soekarno-Hatta.Aku langsung saja menyewa taxi untuk mengantarkan aku kerumah.
Seluruh isi rumah sangat terkejut melihat kehadiranku,aku sungguh bahagia sekali,kerinduan yang selama ini aku tahan terasa terobati.
Esoknya ketika aku dan Bik Inah tengah bercerita dihalaman belakang,Papa dan Mama datang dengan keseriusannya.
“Rani,kamukan sudah jadi dokter sekarang,kamu juga sudah dewasa,kapan kamu akan berkeluarga dan memberikan cucu untuk Papa?”
Pertanyaan itu begitu mengejutkan aku,aku sejenak terdiam,mungkin Papa benar tapi aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan cowok.apalagi pacaran dan nggak mungkin aku bisa menikah.
“Papa benar tapi Papa taukan selama ini nggak ada seorangpun cowok yang mendatangi Rani”jawabku pelan.
Papa malah tertawa dengan jawabanku.
“Bagaimana dengan Fachri?” tambah Mama
“Fachri Ma?”
“Iya,sepertinya dia sangat menyukaimu”
“Mama tau dari mana,Rani aja ketemu ama dia Cuma sekali,nggak mungkinlah Ma”Jelasku.
“Tapi,selama kamu di Malaysia dia sering kesini”timpal Papa
“Yang dia carikan Papa,bukan Rani”
“Bagaimana kalau Papa ngundang dia?”
“Untuk apa Pa?”
“makan malam bersama kita,juga keluarganya?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Papa,aku hanya diam sambil saling pandang dengan Bik Inah.
“Gimana,kamu setujukan?”
“Terserah Papa aja deh”Jawabku tersipu malu.
Akhirnya Papa mengajak Fachri dan keluarganya untuk makan malam bersama dirumahku.Awalnya aku ragu dengan semua ini tapi Bik Inah terus memberikan semangat padaku.Ketika semua sudah berkumpul diruang tamu Papa memanggilku.Akupun keluar dari kamar dan menemui keluarga Fachri.Aku menyalami kedua orang tuanya dan juga adek perempuannya Fachri yang berwajah manis.
“Kok Fachri nggak disalamin?”Tanya Papa membuat pipiku berubah menjadi merah.
“Kamikan sudah saling kenal Pak”Jawab Fachri memecah kebisuanku.
Akirnya aku juga memeberanikan diri untuk menyalami Fachri.
“Hai Fa,apa kabar,kamu kerja dimana sekarang”Dadaku berdebar kencang,apalagi ketika kuulurkan tanganku.
“Seperti yang kamu lihat Ran aku sehat,aku bekerja di Rumah sakit Meilia”Ujarnya sambil menyambut uluran tanganku.
“Baiklah karena hidangannya sudah siap mari kita makan bersama”Ajak Mama.
Kami semua makan bersama,tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulutku,begitu juga Fachri.Setelah menyantap masakan yang dibuat Bik Inah kami semua berkumpul ditaman belakang.Aku tidak menyangka ternyata malam ini adalah sebuah kejutan terbesar dalam hidupku.Ternyata Papa menjodohkan aku dengan Fachri.
“Bagaimana Rani,apa kamu mau menjadi istri Fachri?”Tanya Papa Fachri padaku.
Aku terdiam,sejenak kupandang Papa,dia menganggukkan kepala,kemudian kulihat wajah Fachri yang begitu tegang menunggu keputusanku.
“Rani bersedia Om”Jawabku singkat.
“Alhamdulillah”Ujar mereka semua.Aku melihat senyum yang indah dibibir Fachri.Ternyata Papa dan keluarga Fachri memang tidak ingin mengundur waktu,saat itu juga mereka sibuk menentukan tanggal pernikahan.Aku begitu tidak menyangka akan secepat itu.Tapi kelihatannya Papa memang sudah matang dengan rencana ini.
Akhirnya,tanggal pernikahan telah ditetapkan,yaitu tepat pada tanggal 1 mei  bulan depan.Aku serasa bermimpi.Seluruh persiapan telah dilaksanakan.Dan tibalah hari itu.
Aku begitu tegang,dadaku berdetak sangat kencang.Kukenakan kebaya putih yang diberikan Fachri.
“Kamu cantik sekali putriku”Ujar Mama padaku.
Aku tersenyum mendengar kata-kata Mama,aku melangkah keluar menghampiri Fachri yang sedari tadi telah menungguku.Aku merasa bahagia sekali.Allah begitu sayang padaku,Dia membalas semua kisah sedihku dengan sebuah kebahagiaan yang sangat berharga dalam hidupku.Subhanallah,sekarang aku mengerti Tuhan itu maha adil,dan Tuhan itu tidak akan memberikan cobaan yang tidak mungkin bisa dipikul oleh penerimanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Conter Flag

free counters